Info Seputar Alasan Harga Tomat Naik dan Kisarannya

main image

Harga tomat dan beberapa jenis pangan lain, khususnya sayur dan daging, kerap naik sewaktu-waktu. Hal tersebut jelas menimbulkan cekcok sana-sini. Namun, di samping alasan naiknya harga sayuran terutama harga tomat ini, petani pun memiliki alasannya sendiri. Berikut adalah alasan melonjaknya harga tomat dan pangan di pasar.

  1. Menjelang hari-hari besar

 Sudah bukan rahasia lagi kalau menjelang hari-hari besar seperti hari keagamaan, harga pangan akan naik drastis. Contohnya pada bulan Ramadhan yang tinggal menghitung jari.

Beberapa hari belakangan sudah marak berita tentang kenaikan harga pangan di sana-sini. Salah satunya adalah harga tomat. Dari yang awalnya Rp12.000 kini naik dua kali lipat menjadi Rp24.000 di Pasar Kramat Jati.

Hari-hari besar seperti ini tentu akan dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Karena, pada hari-hari tertentu seperti itu, para warga akan keluar untuk membeli banyak bahan makanan.

Utamanya adalah sayur, daging, dan buah-buahan. Bisa dibilang, hal seperti ini sudah sangat lumrah terjadi dan merupakan salah satu trik berdagang.

  1. Keadaan Buruk, Khususnya Cuaca

 Kekurangan air, pupuk, cuaca buruk, masalah ekspor-impor, dan sebagainya. Hal tersebut akan sangat berdampak pada harga barang di pasar. Apalagi, menanam tidaklah mudah, demikian pula dengan beternak.

 Selain ada gangguan hama atau wabah, cuaca juga menentukan kualitas. Jadi pantas saja bila harga melonjak, ketika cuaca sedang tidak mendukung atau tiba-tiba terjadi kecelakaan saat pengiriman barang. Menaikkan harga pangan tersebut bertujuan untuk menutup atau menambal kerugian yang terjadi.

Jangan heran apabila harga tomat naik, karena tomat sangat baik di suhu tertentu dan kelembaban yang pas. Tomat tidak bagus bila ditanam di cuaca yang terlalu panas, tomat juga memerlukan air yang cukup.

Namun, seperti yang Anda ketahui, belakangan ini cuaca tidak menentu. Kadang panas, kadang hujan lebat. Ini jelas akan mempengaruhi kualitas, kuantitas, serta harga jual dari si tomat itu sendiri. Maka jangan heran apabila menemukan tomat yang naik berkali-kali lipat dari harga biasa.

  1. Wabah COVID-19 menghambat ekonomi

 Corona Virus atau yang lebih dikenal dengan COVID telah menimbulkan kerugian besar-besaran di banyak bidang dan tempat. Salah satunya adalah mempengaruhi sektor ekonomi, entah itu masuk pada harga pasar yang naik-turun, pertanian, maupun peternakan.

Sebab, dengan adanya COVID ini, para peternak jadi harus lebih memperhatikan hewannya. COVID dapat menular baik melalui hewan maupun manusia, utamanya unggas. Selain itu, pandemi yang telah terjadi selama lebih dari satu tahun ini juga merugikan sektor pertanian.

Karena para petani jadi kesusahan menjual hasil panennya. Bahkan tak jarang para petani kesulitan mendapat pasokan pupuk karena banyak toko yang ditutup atas kebijakan pemerintah yang dinamakan PSBB.

  1. Harga Pangan Tergantung Kualitas

 Kualitas adalah salah satu hal yang tidak boleh dilakukan apabila mengingat-ingat soal kenaikan harga pangan. Kualitas pangan impor jelas berbeda dengan kualitas pangan lokal. Biasanya ada rentan perbedaan antara keduanya.

Contohnya, wortel lokal biasanya dijual dengan harga kurang-lebih Rp18.000 di beberapa wilayah, sedangkan yang impor dijual Rp20.000. Tidak aneh kalau pangan impor dijual lebih mahal. Selain karena kualitasnya yang bersaing, pangan impor juga membutuhkan biaya bea cukai untuk bisa bergabung dengan pasar Indonesia.

  1. Tergantung Ketersediaan Pangan dan Permintaan Pelanggan

 Harga pangan yang naik-turun ini juga bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan dari ketersediaan pangan dan permintaan pasar. Apabila permintaan pangan tinggi tetapi pangan yang tersedia tinggal sedikit, maka harganya otomatis akan naik drastis. Namun kalau ketersediaan pangan melimpah dengan permintaan pasar menurun, maka harga produk tersebut akan merosot turun.

Itulah beberapa alasan mengenai naik-turunnya harga pasar, terutama untuk harga sayur, buah-buahan, dan daging di pasar Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *